BELAJAR DARI KAKEK

26 November 2008

BELAJAR DARI KAKEK

Cerita ini berawal ketika saya sedang kursus bahasa Arab di Madrosatul alsun di Jl. Mayjen Sungkono Sidoarjo. Setiap kali kursus saya bertemu beliau yang begitu antusias belajar. Sesekali ia bertanya makna kata yang sulit dia terjemahkan padahal sudah berkali-kali diajarkan. Yah…mungkin karena sudah tua…..gumamku dalam hati. Namun yang mengherankan setiap kali kursus saya selalu bertemu dengan beliau. Tak tampak sedikitpun raut wajah bosan, jenuh dan putus asa karena daya ingatan yang semakin hari semakin menurun seiring bertambah tua usianya. Sampai suatu hari saya beranikan diri bertanya pada beliau.”Pak, mohon maaf. Saya ingin betanya satu hal pada Bapak. Apa yang menyebabkan Bapak ingin Belajar Bahasa Arab padahal Bapak sudah setua ini?” batinku berkata, “kalaupun belajar pasti agak susah karena kemungkinan dengan potensi daya ingat yang menurun pasti tidak optimal”. Namun yang mmbuatku terkejut dengan jawaban yang beliau sampaikan.”Mas bukankah-‘utlubul ilmi faridhotun ‘ala a kulli muslimin yang terjemahnya belajar itu adalah kewajiban bagi seorang muslim tanpa ada batasan usia kan??” iya juga ya…namun nyang terbayang pada benakku “kalau orang setua ini saja begitu bersemangat dalam belajar meski sudah setua ini dan mungkin manfaat ilmunya tidak dapat ia rasakan karena ajal yang sudah dekat-karena usianya sudah 63tahun-” kenapa kita yang muda, susah banget disuruh belajar mencari ilmu….bukankah kita masih punya banyak kesempatan.renungkan………


Bersyukur lebih baik dari mengeluh

26 November 2008

Bersyukur lebih baik dari mengeluh
Dikisahkan, Pada suatu ketika, Tuhan ingin sekali tahu bagaimana jika semua
makhluk tersebut diberi kesempatan memilih hidup sekali lagi, ingin menjadi
apakah masing-masing dari mereka? Maka, Tuhan pun bertanya kepada semua makhluk
ciptaan-Nya.

Jawaban Tikus, “Jika diberi kesempatan memilih, aku ingin menjadi kucing. Enak
jadi kucing, dia bisa bebas merdeka berada di dapur, disediakan makanan, susu,
dan dielus-elus oleh manusia.”

Kucing menjawab, “Kalau bisa memilih, aku ingin jadi tikus. Kepandaian tikus
mengelilingi lorong-lorong rumah membuat orang serumah kewalahan, dan tikus
bahkan bisa mencuri makanan yang tidak bisa aku santap. Hebat sekali menjadi
seekor tikus.”

Jawabnya Ayam, “Pasti aku ingin menjadi seekor elang. Lihatlah langit di atas
sana , elang tampak begitu perkasa mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa
luas, membuat semua makhluk iri, ingin menjadi seperti dirinya. Tidak seperti
diriku, setiap hari mengais makanan, terkurung dan tidak memiliki kebebasan sama
sekali.”

Kalo Elang Jawab, “Aku mau menjadi seekor ayam. Ayam tidak perlu bersusah payah
terbang kesana-kemari untuk mencari mangsa. Setiap hari sudah disediakan makanan
oleh petani, diberi suntikan untuk mencegah penyakit, dan ayam begitu terlindung
di dalam kandang yang nyaman, bebas dari hujan dan panas.”

Saat pertanyaan yang sama diberikan pada manusia, ternyata perempuan dan lelaki
pun memberikan jawaban yang beda.

Si Perempuan menjawab, “Saya ingin menjadi laki-laki. Pemimpin besar dan yang
hebat-hebat adanya pasti di dunia laki-laki, Menjadi perempuan sangatlah
menderita, harus selalu melayani, bertarung nyawa melahirkan anak, kemudian
membesarkan mereka, ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.”

Kaum Lelaki jawabnya, “Aku mau jadi perempuan. Halus budi bahasanya, tidak perlu
bekerja keras menghidupi keluarga, selalu disayang, dilindungi dan dimanjakan.
Ingat, tidak ada pahlawan yang lahir tanpa seorang perempuan, surga saja ada di
bawah telapak kaki ibu atau perempuan.”

Setelah mendengar semua jawaban para mahluk ciptaan-Nya, Tuhan pun memutuskan
tidak memberi kesempatan untuk memilih lagi. Maka, setiap makhluk akan kembali
menjadi makhluk yang sama.

Pembaca yang berbahagia,

Ada pepatah yang mengatakan, “Rumput tetangga selalu lebih hijau dibandingkan
dengan rumput di kebun sendiri.” Hal tersebut sejalan dengan kisah di atas.
Memang, tak bisa dipungkiri jika manusia kadang justru lebih sering memikirkan
kelebihan, kebahagiaan, dan kesuksesan orang lain. Hal ini membuat orang acap
kali mengabaikan apa yang sudah dimilikinya. Tak heran, jika pikiran selalu
dipenuhi dengan perasaan tersebut, maka hidup akan selalu menderita akibat
terbiasa selalu membanding-bandingkan. Padahal, tahukah kita jika orang yang
kita pikirkan justru mungkin berpikir sebaliknya?

Maka, dengan mampu menerima dan bersyukur apa adanya atas apapun yang kita
miliki adalah kebijaksanaan. Dan, bisa ikut berbahagia melihat kebahagiaan dan
kesuksesan orang lain adalah kekayaaan mental.

Mari, cintai apa yang kita miliki, hidup pasti akan lebih berarti. Maka, kita
akan bisa menyongsong kegembiraan dan kebahagiaan sejati


SIKAP MUSLIM terhadap EKSEKUSI AMROZI CS

23 November 2008

PERNYATAAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA Tentang “EKSEKUSI MATI AMROZI CS ”
Kantor Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Nomer: 145/PU/E/11/08
Jakarta, 10 Dzulqaidah 1429H/10 November 2008
PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Tentang
“EKSEKUSI MATI AMROZI CS ”
Setelah semua proses hukum dilalui dan semua persiapan matang dilakukan oleh pihak kejaksaan dan kepolisian, akhirnya Amrozi, Imam Samudra dan Mukhlas benar-benar dieksekusi pada tengah malam 9 November lalu di Nusakambangan. Inna lillahi wa inna ilayhi rajiuun.
Berkenaan dengan hal tersebut, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:
1. Mendoakan agar Amrozi, Imam Samudra dan Mukhlas meninggal dalam keadaan khusnul khatimah dimana seluruh amal shalehnya diterima oleh Allah SWT, dan segala dosa, kesalahan dan kekhilafah mereka diampuni, sehingga di Akhirat mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Nya.
2. Eksekusi tersebut tidaklah menghapus pertanyaan penting benarkah Amrozi cs adalah pelaku utama bom Bali 1? Memang, mereka mengakui telah menyiapkan bom, tapi benarkah bom sangat besar yang meledak di jalan Legian, yang oleh para ahli bom dinilai masuk dalam kualifikasi micronuke, adalah benar-benar bom yang dibuat oleh Amrozi dan kawan-kawan? Keraguan semacam ini akan terus ada mengingat banyak sekali fakta-fakta yang sangat gamblang yang menunjukkan tentang kemungkinan adanya bom yang sengaja ditumpangkan oleh pihak lain.
3. Karenanya, pemerintah dan masyarakat harus tetap waspada terhadap kemungkinan akan adanya bom berikutnya. Mengapa? Sesungguhnya terorisme yang selama ini terjadi adalah fabricated terrorism atau terorisme yang diciptakan. Bila digunakan analisis hubungan antara motivasi dan aksi, maka semua bom yang meledak sejak dari bom Bali 1 hingga bom Bali 2 sangatlah aneh. Bila itu semua dibuat dalam rangka apa yang sering dikatakan sebagai perang atau perlawanan melawan AS, mengapa tak satupun instalasi penting AS di Indonesia yang terkena? Disinyalir telah terjadi operasi (intelijen) yang melakukan langkah-langkah 5i, yakni inflitrasi (terhadap kelompok Islam yang memiliki semangat perlawanan), radikalisasi (dipompa untuk lebih bersemangat melawan), provokasi (didorong untuk melakukan tindakan), aksi (digerakkan melakukan tindakan kongkrit berupa pengeboman di sejumlah sasaran) dan stigmatisasi (sehingga tercipta stigma bahwa Indonesia adalah sarang teroris, pelakunya kelompok fundamentalis dari kalangan pesantren). Dan stigma semacam itu sekarang telah terjadi. Karenanya, untuk kepentingan tetap terpeliharanya stigma buruk tersebut dan dalam rangka memelihara momentum kampanye war on terrorism, maka diduga kuat mastermind atau otak dibalik kasus terorisme di Indonesia masih akan terus bekerja untuk menciptakan peristiwa terorisme baru.
4. Pemerintah Indonesia tidak boleh terjebak pada apa yang disebut kampanye war on terrrorism yang didengungkan AS karena kampanye ini hanyalah kedok (mask) untuk menutupi maksud sesungguhnya, yakni war on Islam. Mengapa? Bila benar AS dan negara-negara sekutunya sungguh-sungguh berperang melawan terorisme, dan terorisme itu diartikan sebagai setiap orang atau kelompok orang yang dalam mencapai tujuannya menggunakan kekerasan, maka mestinya orang-orang seperti presiden Bush, Tony Blair, John Howard dan tokoh lainya seperti Ariel Sharon, dan negara seperti AS, Inggris dan Australia juga negara lain yang jelas-jelas telah menghancurkan Irak dan Afghanistan serta Palestina, juga harus dianggap teroris. Tapi kenyataannya, yang disebut teroris hanyalah orang atau kelompok Islam yang sesungguhnya bertindak sebagai perlawanan terhadap kedzaliman terhadap dunia Islam, sementara negara dan orang-orang yang jelas-jelas memerintahkan melakukan kedzaliman itu justru tidak pernah dipersoalkan.
5. Oleh karena itu, pihak berwajib harus berusaha sungguh-sungguh untuk mengungkap siapa pelaku utama atau master mind dari rangkaian bom yang terjadi di Indonesia. Hanya dengan cara itu, kegiatan yang disebut terorisme bisa dihentikan. Eksekusi Amrozi cs tidak boleh mengalihkan pandangan bahwa seolah merekalah pelaku utama dan sekaligus menutup terungkapnya sang master mind yang pasti terkait dengan program war on terrorism yang digerakkan oleh AS dan sekutunya tadi.
Wassalam,
Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796 Email: Ismaily@telkom.net

Gedung Anakida Lt 7
Jl. Prof. Soepomo 27, Tebet, Jakarta Selatan
Telp/Fax : (62-21) 8353254
Email : info@hizbut-tahrir.or.id – Website: www.hizbut-tahrir.or.id


Ketika aku mati

22 November 2008

Ketika aku mati
Seperti biasa saya sehabis pulang kantor tiba di rumah langsung duduk bersantai
sambil melepas penat. Sepertinya saya sangat enggan untuk membersihkan diri dan
langsung shalat.

Sementara anak2 & istri sedang berkumpul di ruang tengah. Dalam kelelahan tadi,
saya disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi2 yang menghembus tepat di muka
saya.

Selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya berjubah putih dengan
tongkat ditangannya tiba2 sudah berdiri di depanku.

Saya sangat kaget dengan kedatangannya yang tiba2 itu. Sebelum sempat
bertanya…. .siapa dia…tiba2 saya m eras a dada saya sesak… sulit untuk
bernafas….

namun saya berusaha untuk tetap menghirup udara sebisanya.

Yang saya rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan2 dari dadaku……
terus berjalan…. . kekerongkonganku. …sakittttttttt ……..sakit. …..
rasanya. Keluar airmataku menahan rasa sakitnya,… . Oh Tuhan ! ada apa dengan
diriku…..

Dalam kondisi yang masih sulit bernafas tadi, benda tadi terus memaksa untuk
keluar dari tubuhku…

kkhh…….. .khhhh… .. kerongkonganku berbunyi. Sakit rasanya, amat teramat
sakit

Seolah tak mampu aku menahan benda tadi… Badanku gemetar… peluh keringat
mengucur d eras …. mataku terbelalak.. …air mataku seolah tak berhenti.

Tangan & kakiku kejang2 sedetik setelah benda itu meninggalkan aku. Aku melihat
benda tadi dibawa oleh orang misterius itu…pergi. ..berlalu begitu
saja….hilang dari pandangan.

Namun setelah itu……… aku m eras a aku jauh lebih Ringan, sehat, segar,
cerah… tidak seperti biasanya.

Aku herann… istri & anak2 ku yang sedari tadi ada diruang tengah, tiba2
terkejut berhamburan ke arahku.. Di situ aku melihat ada seseorang yang terbujur
kaku ada tepat di bawah sofa yang kududuki tadi. Badannya dingin kulitnya
membiru. siapa dia???????.. . Mengapa anak2 & istriku memeluknya ! sambil
menangis… mereka menjerit…histeris …terlebih istriku seolah tak mau
melepaskan orang yang terbujur tadi…

Siapa dia……… ….????? ???

Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan.. .. dia……..dia. ……dia
mirip dengan aku….ada apa ini Tuhan…???? ????

Aku mencoba menarik tangan istriku tapi tak mampu….. Aku mencoba merangkul
anak2 ku tapi tak bisa. Aku coba jelaskan kalau itu bukan aku.

Aku coba jelaskan kalau aku ada di sini.. Aku mulai berteriak… ..tapi mereka
seolah tak mendengarkan aku seolah mereka tak melihatku…

Dan mereka terus-menerus menangis…. aku sadar..aku sadar bahwa orang misterius
tadi telah membawa rohku Aku telah mati…aku telah mati.

Aku telah meninggalkan mereka ..tak kuasa aku menangis…. berteriak. …..

Aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku. Aku sangat sedih.. selama hidupku
belum banyak yang kulakukan untuk membahagiakan mereka. Belum banyak yang bisa
kulakukan ! untuk membimbing mereka.

Tapi waktuku telah habis……. masaku telah terlewati… . aku sudah tutup usia
pada saat aku
terduduk di sofa setelah lelah seharian bekerja.

Sungguh bila aku tahu aku akan mati, aku akan membagi waktu kapan harus bekerja,
beribadah, untuk keluarga dll.

Aku menyesal aku terlambat menyadarinya. Aku mati dalam keadaan belum ibadah.

Ohh Tuhan, JIKA kau ijinkan keadaanku masih hidup dan masih bisa membaca E-mail
ini sungguh aku amat sangat bahagia.

Karena aku MASIH mempunyai waktu untuk bersimpuh, mengakui segala dosa & berbuat
kebaikan sehingga bila maut menjemputku kelak aku telah berada pada keadaan yang
lebih siap.


Mengurai Akar Masalah Siswa

23 Desember 2008

 

Minggu-minggu terakhir ini kita tentu mendengar banyaknya kenakalan siswa dengan banyaknya kejadian tawuran siswa/mahasiswa yang diliput beberapa media massa. Tidak hanya itu kita pun merasakan bahwa anak didik sekarang lebih susah diatur/dinasehati. Seolah setiap nasehat yang disampaikan oleh guru hanya sebatas angin lalu yang melintas di telinga kanan lalu langsung keluar lewat telinga kirinya  Dan kita pun juga merasakan bahwa pengajaran kita semakin tahun semakin sulit diterima anak dengan indikasi semakin merosotnya nilai ujian kebanyakan siswa.

 

Akar masalah dan akibatnya

Sebenarnya ketika kita ingin menyelesaikan suatu masalah, maka kitapun harus meneliti akar permasalahannya. Setidaknya ada 3 sumber masalah yang dapat kita amati.

1.       Keluarga

Penyebab awal masalah siswa tentu bisa dirunut dari asal siswa yaitu keluarga. Suasana keluarga yang tidak kondusif tentu akan mengakibatkan situasi belajar tidak akan nyaman bagi anak. Beberapa kondisi yang tidak kondusif itu disebabkan

a. lemahnya pengawasan orangtua

Ini disebabkan karena sebagian masyarakat kita merasa penghasilannya tidak cukup dengan tuntutan kebutuhan yang semakin tinggi. Sehingga menuntut kedua orang tua bekerja diluar rumah, sebagai dampaknya anak jauh dari pengawasan orang tua, anak kurang mendapat perhatian sehingga ketika dikelas dia berusaha mencari perhatian dengan membuat ulah, ramai dikelas.

b. Sumber belajar beralih pada pembantu dan TV dan media lain

Pembantu, TV, dan  komik kini menjadi guru utama dalam keseharian mereka. Bayangkan betapa mirisnya ketika kita melihat anak justru belajar dari sebagian pembantu yang memiliki taraf belajar minim(meskipun tidak semuanya) yang tidak mungkin sempat mengajari anak tetang akhlak, menemani belajar karena mereka harus merampugkan tugasnya sebagai pembantu rumah tangga yang menjadi mulai tugasnya-menyapu, ngepel, menyiram tanaman, mencucu piring, mencucu kendaraan, memasak dan segudang tugas lainnya. Sehingga pilihan teman belajar mereka beralih pada Televisi, tentu sangat difahami dengan begitu lama mereka “diajari” TV maka gaya hidup mereka pun mengcopy-pasta apapun yang besasal dari TV misal: film sincan-mengajari hal-hal berbau porno, spongbob-istilah2 sex:bikini bottom, tom and jerry-kekerasan, teletubbis-gay, superman, batman-berkhayal tidak masuk akal, sinetron cinta-dewasa sebelum waktunya, rahasia ilahi-agama menjadi sumber ketakutan dan majalah-majalah yang tidak mendidik misal donal bebek jadi inspirator jadilah kaya dengan cara apapun dan pelitlah sesudahnya dan majalah lain yang begitu banyak

c. kurangnya keteladanan dan pemahaman islam dari rumah

hal ini membuat mereka jauh dari sopan santun, rendah kontrol dalam aktivitas ibadah, lemah tanggung jawab dan tidak peduli dengan pemahaman agamanya-padahal ini adalah pegangan utama untuk kehidupan mereka.

 

2.       Masyarakat

masyarakat dibedakan menjadi 2 yaitu sekolah dan tempat tinggal

a. Di tempat tinggal : masyarakat yang cuek dengan orang lain cukup memberikan andil dalam membangun kepribadian anak, lingkungan masyarakat yang buruk misal anak berkata jorok, permainan latihan judi-kelereng, kartu dan PS, internet yang membuat mereka tidak betah dirumah dan lebih terpengaruh dengan dunia luar rumah.

b. Sekolah

    1. teman yang perangainya buruk kadang mempengaruhi siswa

    2. kontrol guru yang lemah-kadang guru sudah jenuh menasehati anak tidak berubah, guru kasar dan memarahi siswa ketika mereka berbuat salah juga mengajari secara tidak langsung bagaimana anak mengatasi masalahnya. Kadang guru sudah begitu banyak beban tugasnya, Rendahnya gaji guru membuat guru tidak fokus pada aktivitas mengajar sehingga mereka terpaksa “nyambi”pekerjaan lain. karena pendapatan yang tidak cukup sehingga beban tugasnya makin berat membuat guru menjadi tempramen,mudah marah dan kadang lepas kontrol pun tidak bisa disalahkan. Namun dalam kasus kenakalan siswa ini pun kadang menjadi andil sebagai media belajar bagi anak.

 

3.       Negara

Negara dalam hal ini juga turut memberikan kontribusi kenakalan siswa. Hal ini disebabkan karena negara terpengaruh pendidikan model kapitalis. Tuntutan kurikulum yang berat memperparah kondisi dan semangat belajar anak. Bayangkan berapa pelajaran yang harus dikuasai anak? tebatasnya anggaran pendidikan menjadikan sarana skolah minim dan upaya melepaskan tanggung jawab pendanaan yang kemudian dialihkan pada swastanisasi institusi pendidikan mengakibatkan pendidikan di negeri ini semakin mahal.

 

SOLUSI ISLAM, Solusinya berarti harus diselesaikan pada 3 sumber permasalahan yaitu:

1.       Keluarga

a. menciptakan situasi keluarga yang kondusif untuk belajar

b. menanamkan akidah dan pemahaman islam yang baik dalam pelaksanan secara individu, anggota keluarga dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

c. pemebntukan kepedulian dan rasa tanggung jawab

d. mengawasi dan melindungi anak dari pengaruh media masa yang kontraproduktif pada anak

2.       Sekolah

a. menanamkan secara terstruktur iman/aqidah anak

b. mengajrkan dan memebri tauladan pelaksanaan syariat islam dalam kehidupan sehari hari-budi pekerti, ibadah dan muamalah

c. mengajarkan sains dan teknologi ysng selaras dengan aqidah islam

d. mengawasi dan meningkatkan kualitas pengajar

3.       Masyarakat

a. peduli dan aktif melakukan kritik membangun  terhadap proses pendidikan di sekolah, keluarga dan masyarakat

b. ikut melakukan kontrol terhadap anak didik di lingkungannya masing2

4.       Negara

Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Negara

Dalam Islam pembiayaan pendidikan untuk seluruh tingkatan sepenuhnya merupakan tanggung jawab negara. Seluruh pembiayaan pendidikan, baik menyangkut gaji para guru/dosen, maupun menyangkut infrastruktur serta sarana dan prasarana pendidikan, sepenuhnya menjadi kewajiban negara. Ringkasnya, dalam Islam pendidikan disediakan secara gratis oleh negara (Usus Al-Ta’lim Al-Manhaji, hal. 12).

Mengapa demikian? Sebab negara berkewajiban menjamin tiga kebutuhan pokok masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Berbeda dengan kebutuhan pokok individu, yaitu sandang, pangan, dan papan, di mana negara memberi jaminan tak langsung, dalam hal pendidikan, kesehatan, dan keamanan, jaminan negara bersifat langsung. Maksudnya, tiga kebutuhan ini diperoleh secara cuma-cuma sebagai hak rakyat atas negara (Abdurahman Al-Maliki, 1963).

sistem pendidikan yang diterapkan dalam islam adalah mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Rasulullah saw. bersabda:

 

“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Perhatian Rasulullah saw. terhadap dunia pendidikan tampak ketika beliau menetapkan para tawanan Perang Badar dapat bebas jika mereka mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah. Hal ini merupakan tebusan. Dalam pandangan Islam, barang tebusan itu merupakan hak Baitul Mal (Kas Negara). Tebusan ini sama nilainya dengan pembebasan tawanan Perang Badar. Artinya, Rasulullah saw. telah menjadikan biaya pendidikan itu setara nilainya dengan barang tebusan yang seharusnya milik Baitul Mal. Dengan kata lain, beliau memberikan upah kepada para pengajar (yang tawanan perang itu) dengan harta benda yang seharusnya menjadi milik Baitul Mal. Kebijakan beliau ini dapat dimaknai, bahwa kepala negara bertanggung jawab penuh atas setiap kebutuhan rakyatnya, termasuk pendidikan.

Imam Ibnu Hazm, dalam kitabnya, Al-Ihkâm, menjelaskan bahwa kepala negara (khalifah) berkewajiban untuk memenuhi sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat. Jika kita melihat sejarah Kekhalifahan Islam, kita akan melihat begitu besarnya perhatian para khalifah terhadap pendidikan rakyatnya. Demikian pula perhatiannya terhadap nasib para pendidiknya. Imam ad-Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari al-Wadliyah bin Atha’ yang menyatakan, bahwa di kota Madinah pernah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin al-Khaththab memberikan gaji kepada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar=4,25 gram emas)jika sekarang 1 gram emas Rp. 200.000 maka gaji guru sebesar 12.750.000 (LUAR BIASA besaaaarrrrr….SANGAT LAYAK BUKAN???).

Perhatian para khalifah tidak hanya tertuju pada gaji pendidik dan sekolah, tetapi juga sarana pendidikan seperti perpustakaan, auditorium, observatorium, dll. Pada masa Kekhilafahan Islam, di antara perpustakaan yang terkenal adalah perpustakaan Mosul didirikan oleh Ja‘far bin Muhammad (w. 940 M). Perpustakaan ini sering dikunjungi para ulama, baik untuk membaca atau menyalin. Pengunjung perpustakaan ini mendapatkan segala alat yang diperlukan secara gratis, seperti pena, tinta, kertas, dll. Bahkan para mahasiswa yang secara rutin belajar di perpustakaan itu diberi pinjaman buku secara teratur. Seorang ulama Yaqut ar-Rumi memuji para pengawas perpustakaan di kota Mer Khurasa karena mereka mengizinkan peminjaman sebanyak 200 buku tanpa jaminan apapun perorang. Ini terjadi pada masa Kekhalifahan Islam abad 10 M. Bahkan para khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya.

SEMOGA INI BISA TERWUJUD KEMBALI DENGAN DAKWAH YANG HARUS KITA SAMPAIKAN PADA INDIVIDU, MASYARAKAT DAN NEGARA. WALLAHU A’LAM

 

 

 

 


Berkorban untuk orang lain

2 Desember 2008

Berkorban untuk orang lain
Tingginya Nilai Kasih Sayang

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran:
- “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak
perempuanmu tersayang untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu, tampak
ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu
asam/yogurt (nasi khas India = curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk
pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice
ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada
“cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata:
- “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini?
Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.”

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda
dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata:
- “Boleh ayah akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi
semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta…” agak ragu2 sejenak…
“….akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau
berjanji memenuhi permintaanku? “

Aku menjawab: “Oh, pasti sayang”.

Sindu: “Betul ayah?”

- “Yah pasti..” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut
sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan
Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “janji” kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata:
- “Sindu, jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah
saat ini tidak punya uang.”

Sindu: “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok.”

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia
bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama
istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya..

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap
dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu!

Istriku spontan berkata: “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak
mungkin!”

Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak
nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: “Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan
sedih melihatmu botak.”

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya: – “Tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain.”

Aku coba memohon kepada Sindu:
- “Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!”

Sindu, dengan menangis, berkata:
- “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu
dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku. Kenapa ayah sekarang mau
menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral,
bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi
seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi
janjinya raja real memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya
sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku: – “Janji kita harus
ditepati..”

Secara serentak istri dan ibuku berkata: – “Apakah aku sudah gila?”

Aku: “Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar
bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan
ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas
lambaian tangannya.

Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak: – “Sindu, tolong
tunggu saya.”

Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak, aku berpikir mungkin
“botak” model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: -
“Anak anda, Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia
sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”

Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh
dipipinya:
- “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy kepalanya menjadi
botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya.
Nah, minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk
mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya, saya betul2 tidak menyangka kalau
Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri
tuan sungguh diberkati Tuhan, mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku,
tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih!


KDS Sebar 1.000 Kondom dan Brosur Tentang HIV/AIDS

2 Desember 2008

HTI-Press. Kelompok dukungan sebaya (KDS) Jepara Plus yang peduli pada HIV/AIDS di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Senin, menyebarkan sekitar 1.000 kondom dan brosur mengenai penyakit yang menyerang kekebalan tubuh manusia ke masyarakat luas dalam peringatan Hari HIV/AIDS sedunia 1 Desember 2008.

Ketua KDS Jepara Plus, Faizin, di Jepara, Senin, mengatakan, aksi simpatik tersebut dilakukannya bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Jepara.

Pembagian 1.000 kondom itu dilakukan di sejumlah hotel yang ada di Jepara. “Awalnya kami ingin menyebarkan kondom gratis tersebut di sejumlah tempat lokalisasi, hanya saja tempat itu sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Ia berharap, kondom tersebut dapat diberikan secara gratis terhadap sejumlah pengunjung yang menginap di hotel.

Aksi turun ke jalan menggelar aksi damai dan menyebarkan brosuritu sengaja dipilih, mengingat aksi simpatik pada tahun 2007 membuat stand peduli AIDS yang dibuka dekat Alun-alun Jepara kurang menarik minat masyarakat.

“Saat ini, kami mencoba proaktif, menjemput bola sambil menyebarkan brosur tentang HIV/AIDS ke masyarakat luas,” katanya seperti dikutip dari Republika Online (01/12/08).

Pembagian kondom tidak akan menyelesaikan masalah penyakit AIDS. Bahkan bisa melegalisasi perzinaan, dengan alasan yang penting seks yang aman.

Pangkal penyebaran penyakit terkutuk ini adalah kemaksiatan manusia dengan meluasnya perzinaan, pelacuran dan seks bebas. Penyakit ini merupakan produk busuk dari sistem liberal kapitalis. Jalan satu-satunya adalah menjauhi sex bebas dan menghukum dengan tegas para pelakunya. Termasuk menutup sarana-sarana pelacuran yang bertopeng hiburan dan budaya.

“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri”. (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).