Minggu-minggu terakhir ini kita tentu mendengar banyaknya kenakalan siswa dengan banyaknya kejadian tawuran siswa/mahasiswa yang diliput beberapa media massa. Tidak hanya itu kita pun merasakan bahwa anak didik sekarang lebih susah diatur/dinasehati. Seolah setiap nasehat yang disampaikan oleh guru hanya sebatas angin lalu yang melintas di telinga kanan lalu langsung keluar lewat telinga kirinya Dan kita pun juga merasakan bahwa pengajaran kita semakin tahun semakin sulit diterima anak dengan indikasi semakin merosotnya nilai ujian kebanyakan siswa.
Akar masalah dan akibatnya
Sebenarnya ketika kita ingin menyelesaikan suatu masalah, maka kitapun harus meneliti akar permasalahannya. Setidaknya ada 3 sumber masalah yang dapat kita amati.
1. Keluarga
Penyebab awal masalah siswa tentu bisa dirunut dari asal siswa yaitu keluarga. Suasana keluarga yang tidak kondusif tentu akan mengakibatkan situasi belajar tidak akan nyaman bagi anak. Beberapa kondisi yang tidak kondusif itu disebabkan
a. lemahnya pengawasan orangtua
Ini disebabkan karena sebagian masyarakat kita merasa penghasilannya tidak cukup dengan tuntutan kebutuhan yang semakin tinggi. Sehingga menuntut kedua orang tua bekerja diluar rumah, sebagai dampaknya anak jauh dari pengawasan orang tua, anak kurang mendapat perhatian sehingga ketika dikelas dia berusaha mencari perhatian dengan membuat ulah, ramai dikelas.
b. Sumber belajar beralih pada pembantu dan TV dan media lain
Pembantu, TV, dan komik kini menjadi guru utama dalam keseharian mereka. Bayangkan betapa mirisnya ketika kita melihat anak justru belajar dari sebagian pembantu yang memiliki taraf belajar minim(meskipun tidak semuanya) yang tidak mungkin sempat mengajari anak tetang akhlak, menemani belajar karena mereka harus merampugkan tugasnya sebagai pembantu rumah tangga yang menjadi mulai tugasnya-menyapu, ngepel, menyiram tanaman, mencucu piring, mencucu kendaraan, memasak dan segudang tugas lainnya. Sehingga pilihan teman belajar mereka beralih pada Televisi, tentu sangat difahami dengan begitu lama mereka “diajari” TV maka gaya hidup mereka pun mengcopy-pasta apapun yang besasal dari TV misal: film sincan-mengajari hal-hal berbau porno, spongbob-istilah2 sex:bikini bottom, tom and jerry-kekerasan, teletubbis-gay, superman, batman-berkhayal tidak masuk akal, sinetron cinta-dewasa sebelum waktunya, rahasia ilahi-agama menjadi sumber ketakutan dan majalah-majalah yang tidak mendidik misal donal bebek jadi inspirator jadilah kaya dengan cara apapun dan pelitlah sesudahnya dan majalah lain yang begitu banyak
c. kurangnya keteladanan dan pemahaman islam dari rumah
hal ini membuat mereka jauh dari sopan santun, rendah kontrol dalam aktivitas ibadah, lemah tanggung jawab dan tidak peduli dengan pemahaman agamanya-padahal ini adalah pegangan utama untuk kehidupan mereka.
2. Masyarakat
masyarakat dibedakan menjadi 2 yaitu sekolah dan tempat tinggal
a. Di tempat tinggal : masyarakat yang cuek dengan orang lain cukup memberikan andil dalam membangun kepribadian anak, lingkungan masyarakat yang buruk misal anak berkata jorok, permainan latihan judi-kelereng, kartu dan PS, internet yang membuat mereka tidak betah dirumah dan lebih terpengaruh dengan dunia luar rumah.
b. Sekolah
1. teman yang perangainya buruk kadang mempengaruhi siswa
2. kontrol guru yang lemah-kadang guru sudah jenuh menasehati anak tidak berubah, guru kasar dan memarahi siswa ketika mereka berbuat salah juga mengajari secara tidak langsung bagaimana anak mengatasi masalahnya. Kadang guru sudah begitu banyak beban tugasnya, Rendahnya gaji guru membuat guru tidak fokus pada aktivitas mengajar sehingga mereka terpaksa “nyambi”pekerjaan lain. karena pendapatan yang tidak cukup sehingga beban tugasnya makin berat membuat guru menjadi tempramen,mudah marah dan kadang lepas kontrol pun tidak bisa disalahkan. Namun dalam kasus kenakalan siswa ini pun kadang menjadi andil sebagai media belajar bagi anak.
3. Negara
Negara dalam hal ini juga turut memberikan kontribusi kenakalan siswa. Hal ini disebabkan karena negara terpengaruh pendidikan model kapitalis. Tuntutan kurikulum yang berat memperparah kondisi dan semangat belajar anak. Bayangkan berapa pelajaran yang harus dikuasai anak? tebatasnya anggaran pendidikan menjadikan sarana skolah minim dan upaya melepaskan tanggung jawab pendanaan yang kemudian dialihkan pada swastanisasi institusi pendidikan mengakibatkan pendidikan di negeri ini semakin mahal.
SOLUSI ISLAM, Solusinya berarti harus diselesaikan pada 3 sumber permasalahan yaitu:
1. Keluarga
a. menciptakan situasi keluarga yang kondusif untuk belajar
b. menanamkan akidah dan pemahaman islam yang baik dalam pelaksanan secara individu, anggota keluarga dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
c. pemebntukan kepedulian dan rasa tanggung jawab
d. mengawasi dan melindungi anak dari pengaruh media masa yang kontraproduktif pada anak
2. Sekolah
a. menanamkan secara terstruktur iman/aqidah anak
b. mengajrkan dan memebri tauladan pelaksanaan syariat islam dalam kehidupan sehari hari-budi pekerti, ibadah dan muamalah
c. mengajarkan sains dan teknologi ysng selaras dengan aqidah islam
d. mengawasi dan meningkatkan kualitas pengajar
3. Masyarakat
a. peduli dan aktif melakukan kritik membangun terhadap proses pendidikan di sekolah, keluarga dan masyarakat
b. ikut melakukan kontrol terhadap anak didik di lingkungannya masing2
4. Negara
Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Negara
Dalam Islam pembiayaan pendidikan untuk seluruh tingkatan sepenuhnya merupakan tanggung jawab negara. Seluruh pembiayaan pendidikan, baik menyangkut gaji para guru/dosen, maupun menyangkut infrastruktur serta sarana dan prasarana pendidikan, sepenuhnya menjadi kewajiban negara. Ringkasnya, dalam Islam pendidikan disediakan secara gratis oleh negara (Usus Al-Ta’lim Al-Manhaji, hal. 12).
Mengapa demikian? Sebab negara berkewajiban menjamin tiga kebutuhan pokok masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Berbeda dengan kebutuhan pokok individu, yaitu sandang, pangan, dan papan, di mana negara memberi jaminan tak langsung, dalam hal pendidikan, kesehatan, dan keamanan, jaminan negara bersifat langsung. Maksudnya, tiga kebutuhan ini diperoleh secara cuma-cuma sebagai hak rakyat atas negara (Abdurahman Al-Maliki, 1963).
sistem pendidikan yang diterapkan dalam islam adalah mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Rasulullah saw. bersabda:
“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Perhatian Rasulullah saw. terhadap dunia pendidikan tampak ketika beliau menetapkan para tawanan Perang Badar dapat bebas jika mereka mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah. Hal ini merupakan tebusan. Dalam pandangan Islam, barang tebusan itu merupakan hak Baitul Mal (Kas Negara). Tebusan ini sama nilainya dengan pembebasan tawanan Perang Badar. Artinya, Rasulullah saw. telah menjadikan biaya pendidikan itu setara nilainya dengan barang tebusan yang seharusnya milik Baitul Mal. Dengan kata lain, beliau memberikan upah kepada para pengajar (yang tawanan perang itu) dengan harta benda yang seharusnya menjadi milik Baitul Mal. Kebijakan beliau ini dapat dimaknai, bahwa kepala negara bertanggung jawab penuh atas setiap kebutuhan rakyatnya, termasuk pendidikan.
Imam Ibnu Hazm, dalam kitabnya, Al-Ihkâm, menjelaskan bahwa kepala negara (khalifah) berkewajiban untuk memenuhi sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat. Jika kita melihat sejarah Kekhalifahan Islam, kita akan melihat begitu besarnya perhatian para khalifah terhadap pendidikan rakyatnya. Demikian pula perhatiannya terhadap nasib para pendidiknya. Imam ad-Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari al-Wadliyah bin Atha’ yang menyatakan, bahwa di kota Madinah pernah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin al-Khaththab memberikan gaji kepada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar=4,25 gram emas)jika sekarang 1 gram emas Rp. 200.000 maka gaji guru sebesar 12.750.000 (LUAR BIASA besaaaarrrrr….SANGAT LAYAK BUKAN???).
Perhatian para khalifah tidak hanya tertuju pada gaji pendidik dan sekolah, tetapi juga sarana pendidikan seperti perpustakaan, auditorium, observatorium, dll. Pada masa Kekhilafahan Islam, di antara perpustakaan yang terkenal adalah perpustakaan Mosul didirikan oleh Ja‘far bin Muhammad (w. 940 M). Perpustakaan ini sering dikunjungi para ulama, baik untuk membaca atau menyalin. Pengunjung perpustakaan ini mendapatkan segala alat yang diperlukan secara gratis, seperti pena, tinta, kertas, dll. Bahkan para mahasiswa yang secara rutin belajar di perpustakaan itu diberi pinjaman buku secara teratur. Seorang ulama Yaqut ar-Rumi memuji para pengawas perpustakaan di kota Mer Khurasa karena mereka mengizinkan peminjaman sebanyak 200 buku tanpa jaminan apapun perorang. Ini terjadi pada masa Kekhalifahan Islam abad 10 M. Bahkan para khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya.
SEMOGA INI BISA TERWUJUD KEMBALI DENGAN DAKWAH YANG HARUS KITA SAMPAIKAN PADA INDIVIDU, MASYARAKAT DAN NEGARA. WALLAHU A’LAM
Ditulis oleh abdmakhrus